Sunday, October 4, 2015

Analisis Cerpen

Hai blogger, dalam blog ini kami akan menyampaikan opini kami tentang kerelevanan beberapa sastra Indonesia terhadap kehidupan rakyat Indonesia ini. Adapun judul cerpen tersebut adalah :

-          Robohnya Surau Kami (A.A. Navis)
-          Orang yang Selalu Cuci Tangan (Seno Gumira Ajidarma)
-          Daun-daun Waru di Samirono (NH Dini)
-          Menggambar Ayah (A.S. Laksana)

Selamat membaca opini kami… =D

ROBOHNYA SURAU KAMI

Cerita ini  menceritakan kehidupan seorang kakek yang dihabiskan untuk menjaga surau namun yang pada akhirnya meninggal karena bunuh diri.Hal ini disebabkan kakek mengalami tekanan batin karena mendengar cerita dari Ajo Sidi. Ajo Sidi bercerita tentang seorang tokoh agama yang rajin beribadah namun pada akhirnya masuk ke neraka. Hal tersebut disebabkan karena keegoisannya dalam menjalani hidup . Ia hanya berdoa tanpa memerhatikan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Cerita ini sangat relevan dengan kehidupan di bangsa Indonesia. Banyak diantara kita mengaku taat beragama dan rajin beribadah, namun kelakuan yang kita perbuat tidak mencerminkan hal tersebut. Banyak di antara kita yang terfokus pada diri kita masing masing tanpa peduli masalah yang dihadapi oleh orang di sekitar kita. Sebagai contoh Indonesia merupakan kawasan dengan sumber daya alam yang kaya namun banyak warganya yang kekurangan bahan pangan bahkan air. Tetapi banyak diantara kita juga yang berkelebihan air namun masih kita gunakan dengan semena mena. Kita hanya terfokus pada keperluan kita tanpa menyadari orang lain juga memerlukan hal tersebut.


ORANG YANG SELALU CUCI TANGAN

Dalam cerpen Orang yang Selalu Cuci Tangan karya Seno Gumira Ajidarma ini sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang ini. Cerpen ini, menceritakan kondisi realita politik Indonesia yang sudah dapat dibilang hancur ini. Cerpen ini menceritakan tentang wakil rakyat Indonesia yang sudah terlanjur memiliki kebiasan yang  buruk. Karena terlalu terbiasanya mereka akan kebiasan buruk tersebut, mereka tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kebiasaan buruk mereka yang diceritakan dalam cerpen ini adalah korupsi.

Dalam cerpen tersebut menceritakan tentang orang yang mencuci tangan melebihi seringnya orang pada umumnya. Kalimat “cuci tangan” sendiri adalah istilah yang sering dipergunakan untuk orang yang menghindar dari tanggung jawab. Para menteri yang melakukan korupsi tentu saja merupakan orang yang menghidar dari tanggung jawabnya.
“Wajah yang selalu muncul di koran dan televisi, wajah yang selalu dijaganya agar tampak selalu terhormat, amat sangat terhormat, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih terhormat. Demi kehormatan wajah itulah ia selalu mencuci tangannya, karena dalam pikirannya, tangan yang kotor akan mempengaruhi pandangan orang banyak terhadap wajahnya.”.

Dalam penggalan cerpen di atas menceritakan tentang sosok elit politik yang selalu muncul di media masa. Mereka akan selalu menjaga nama baik mereka. Mereka tidak akan mau terlihat buruk di mata masyarakat.

“Ia sendiri meragukan, manakah yang sebetulnya lebih baik, antara selalu mencuci tangan karena merasa tangannya selalu kotor dibandingkan dengan selalu mencuci tangan karena tangannya betul – betul kotor. Namun ia sungguh – sungguh ingin percaya, meskipun ia selalu melihat tangannya betul – betul kotor, betapa tangannya itu sendiri sebetulnya bersih.”

Penggalan cerpen di atas menceritakan tentang sosok wakil rakyat yang sudah terbiasa melakukan korupsi sehingga mereka tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana salah.Sifat tamak mereka sudah membutakan mereka.Mereka sudah tidak lagi peduli akan akibat yang ditimbulkan dari ketamakannya.

“Pada suatu hari, ketika ia mencuci tangan di wastafel, air yang mengucur dari kran dalam pandangan matanya agak kecoklat – coklatan…. Segeralah para tukang dipanggil untuk memeriksa, apakah kiranya yang membuat air pencuci tangan yang seharusnya membuat tangan menjadi bersih kini justru membuat tangan semakin kotor.”

Penggalan cerpen di atas mengungkapkan bahwa ketika kesalahan mereka mulai terungkap, mereka dengan kokoh tidak mau mengakui kesalahannya.Bahkan mereka balik menyalahkan pihak yang benar dan juga menganggap pihak yang menyalahkan tersebut adalah pihak – pihak yang anti terhadap dia.

Kesimpulan cerpen ini adalah, sifat wakil rakyat Indonesia sudah terbiasa melakukan korupsi sehingga mereka tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana salah. Oleh karena itu, sebaiknya wakil rakyat Indonesia harus tidak lagi melakukan korupsi.Korupsi secara langsung merugikan rakyat.

DAUN-DAUN WARU DI SAMIRONO

Daun daun Waru di Samirono adalah suatu cerpen yang ditulis oleh NH Dini. Cerpen ini berisi tentang seorang ibu yang sudah kehilangan pekerjaan tetapnya dan pada akhirnya ia meninggal karena tidak mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Cerpen ini adalah cerpen yang menggambarkan tentang kemiskinan yang dilambangkan oleh tokoh mbah Jum. Cerpen ini sangat relevan untuk Indonesia karena cerpen ini secara tidak langsung mengkritik salah satu masalah terbesar yang ada di Indonesia yaitu masalah kemiskinan.

Di cerpen dikatakan bahwa ada saat di mana tokoh mbah jum telah merasakan hantaman di  kirinya. Dada kiri yang dimaksud adalah jantung dan yang ia lakukan hanya mengerok lehernya. Hal ini menjelaskan bahwa banyak orang miskin di Indonesia yang sakit tetapi tak ada biaya untuk mengobati penyakitnya, maka mereka tidak dapat berobat.

Cerpen ini juga menggambarkan nasib orang miskin di Indonesia yang tidak berubah. Dilihat dari karakter Mbah jum yang dulu hanya dipanggil Lik Jum. Nasib orang miskin di Indonesia akan sama setiap saat. Budaya kemiskinan di Indonesia tidak dapat berubah. Dapat dilihat dari tingkat kemiskinan di Indonesia yang semakin meningkat. Meningkat yang dimaksud adalah jumlah orang miskin selalu meningkat dari waktu ke waktu.

Selain tentang kemiskinan, cerpen ini juga mengangkat tema tentang kepedulian masyarakat sekitar terhadap orang yang mendapatkan kesulitan. Kepedulian masyarakat berbeda di berbagai tempat. Di daerah pedesaan, kepedulian masyarakat masih tinggi. Di desa masih sering ada gotong royong, dan solidaritas antar warga tinggi. Dapat dilihat dari cuplikan cerpen tersebut dimana banyak orang yang menawarkan pertolongan kepada mbah Jum karena mereka melihat tokoh mbah Jum yang sudah tua. Dapat disimpulkan desa karena cerpen ini mengambil latar Yogyakarta dan banyak pengerajin tempe sederhana di daerah tersebut.

Di daerah perkotaan, tingkat kepedulian masyarakat cenderung rendah. Masyarakat di daerah perkotaan sudah sering mengabaikan orang lain dan hanya terfokus kepada dirinya sendiri. Mereka cenderung mengabaikan orang lain yang kesusahan dan melakukan pekerjaan yang ia lakukan, karena ia merasa yang paling sibuk.

Ada suatu reality show yang mencoba mengukur tingkat kepedulian masyarakat Jakarta terhadap orang yang kesusahan. Mereka menyiapkan kamera tersembunyi dan ada orang yang menyamar sebagai seorang nenek tua miskin yang menjual jamu. Di tengah trotoar jalan, nenek tersebut pura pura jatuh. Sebagian besar orang hanya melihat dan mengabaikannya. Sampai akhirnya datang seorang nenek tua yang membantu nenek tua miskin yang terjatuh tersebut. Melalui reality show diatas dapat kita lihat tingkat kepedulian masyarakat Indonesia di perkotaan. Mereka hanya terfokus pada pekerjaan mereka tanpa memperhatikan sekitar. Banyak orang muda yang lewat tetapi tak menolong, malahan nenek tua yang menolong nenek tersebut.

Jadi cerpen Daun Daun Waru di Samirono ini sangat relevan bagi Indonesia, karena cerpen ini mengangkat salah satu masalah yang merupakan masalah penting di Indonesia seperti kemiskinan. Cerpen ini juga mengangkat tema tentang tingkat kepedulian masyarakat terhadap orang yang membutuhkan. Tingkat kepedulian masyarakat desa relatif tinggi sedangkan masyarakat kota relatif rendah.
 MENGGAMBAR AYAH
            
“Menggambar Ayah” merupakan sebuah cerpen yang ditulis oleh A.S. Laksana di dalam kumpulan cerpennya yang berjudul  “Bidadari yang Mengembara” dan buku ini menjadi buku kumpulan cerpen terbaik versi majalah Tempo. Cerpen ini menggambarkan seorang anak yang lahir akibat sifat dari seorang ibu yang kurang bertanggung jawab. Anak tersebut lahir karena sang ibu melakukan hubungan seks dengan orang yang tidak diketahui di luar nikah dan tak ada tanggung jawab dari sang ayah. Anak itu pun juga ingin digugurkan oleh sang ibu. Sehingga sang ibu menjadi seorang “single parent” dan tak mengingini anak tersebut.
            
Cerpen ini sangatlah relevan bagi Indonesia, karena banyak kasus tentang seks bebas di Indonesia ini. Banyak tempat tempat prostitusi yang dibuka, banyak juga klub klub malam yang dibuka akan meningkatkan angka seks bebas di Indonesia meningkat. Namun masalah ini bukanlah merupakan masalah serius lagi bagi Indonesia. Sudah banyak usaha usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi angka seks bebas, seperti menutup tempat tempat prostitusi dan klub malam. Namun juga masih ada juga orang orang yang tidak bertanggung jawab dengan mendirikan tempat prostitusi tersembunyi, sehingga polisi tidak dapat menutup tempat itu.

Selain tentang seks bebas, cerpen ini juga mengangkat tema tentang hal aborsi yang sering dilakukan. Aborsi adalah tindakan yang dilakukan untuk membunuh janin yang ada di rahim karena sang ibu tidak mengingini anak tersebut. Hal biasa yang dilakukan sang ibu adalah minum obat terlarang atau langsung ke dokter aborsi. Aborsi sebenarnya ditentang oleh semua agama, karena aborsi merupakan pembunuhan terhadap manusia dan tidak ada agama di dunia ini yang mengizinkan pembunuhan dilakukan dengan alasan apapun.

Cerpen ini juga menggambarkan tentang kurangnya perhatian orang tua kepada anaknya. Sang ibu tidak memberikan perhatian kepada sang anak dan sang anak juga tidak mempunyai figur seorang ayah. Dengan adanya faktor faktor ini, sang anak mengalami sedikit gangguan mental, seperti menggambar ayahnya sebagai alat vital (menggunakan alat vital karena sang ayah dianggap sosok yang penting) di mana mana. Sang anak juga merindukan belaian kasih sayang seorang ibu.

Kesimpulannya adalah cerpen ini sangat relevan bagi Indonesia karena cerpen ini mengangkat tema dari masalah masalah yang pernah dan masih menjadi masalah di Indonesia seperti maraknya prostitusi, aborsi, dan kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua.

Sekian merupakan opini dari kami. Cerpen yang ditulis oleh penulis cerpen ini merupakan cerpen yang secara tidak langsung menyindir tentang negeri kita Indonesia tercinta ini. Mereka tidak bermaksud ingin menjelek jelekan Indonesia di muka umum. Mereka hanya menginginkan rakyat Indonesia sadar akan negaranya dan berkeinginan untuk mengubahnya sehingga Indonesia akan menjadi suatu negara yang hebat dan disegani oleh negara negara lain di dunia ini,

Nama Kelompok :
- Kim Min Kyung 00000012109
- Kineta Kumala 00000011777
- Reynald Agustius Livano 00000012323

Pembagian Tugas :
-Penganalisis Cerpen : - Robohnya Surau Kami (Kim Min Kyung)
        - Orang yang Selalu Cuci Tangan (Kineta Kumala)
       - Daun-daun Waru di Samirono (Reynald A Livano)
       - Menggambar Ayah (Reynald A Livano)
-Pembuat Blog              : Reynald A Livano
-Editor                         : Kineta Kumala
-Pengirim email            : Reynald A Livano


Jumlah Kata : 1579

No comments:

Post a Comment