Hai
blogger, dalam blog ini kami akan menyampaikan opini kami tentang kerelevanan
beberapa sastra Indonesia terhadap kehidupan rakyat Indonesia ini. Adapun judul
cerpen tersebut adalah :
-
Robohnya
Surau Kami (A.A. Navis)
-
Orang
yang Selalu Cuci Tangan (Seno Gumira Ajidarma)
-
Daun-daun
Waru di Samirono (NH Dini)
-
Menggambar
Ayah (A.S. Laksana)
Selamat
membaca opini kami… =D
Cerita ini sangat relevan dengan kehidupan di bangsa Indonesia. Banyak diantara kita mengaku taat beragama dan rajin beribadah, namun kelakuan yang kita perbuat tidak mencerminkan hal tersebut. Banyak di antara kita yang terfokus pada diri kita masing masing tanpa peduli masalah yang dihadapi oleh orang di sekitar kita. Sebagai contoh Indonesia merupakan kawasan dengan sumber daya alam yang kaya namun banyak warganya yang kekurangan bahan pangan bahkan air. Tetapi banyak diantara kita juga yang berkelebihan air namun masih kita gunakan dengan semena mena. Kita hanya terfokus pada keperluan kita tanpa menyadari orang lain juga memerlukan hal tersebut.
ROBOHNYA SURAU KAMI
Cerita ini menceritakan kehidupan seorang kakek yang dihabiskan untuk menjaga surau namun yang pada akhirnya meninggal karena bunuh diri.Hal ini disebabkan kakek mengalami tekanan batin karena mendengar cerita dari Ajo Sidi. Ajo Sidi bercerita tentang seorang tokoh agama yang rajin beribadah namun pada akhirnya masuk ke neraka. Hal tersebut disebabkan karena keegoisannya dalam menjalani hidup . Ia hanya berdoa tanpa memerhatikan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
Cerita ini sangat relevan dengan kehidupan di bangsa Indonesia. Banyak diantara kita mengaku taat beragama dan rajin beribadah, namun kelakuan yang kita perbuat tidak mencerminkan hal tersebut. Banyak di antara kita yang terfokus pada diri kita masing masing tanpa peduli masalah yang dihadapi oleh orang di sekitar kita. Sebagai contoh Indonesia merupakan kawasan dengan sumber daya alam yang kaya namun banyak warganya yang kekurangan bahan pangan bahkan air. Tetapi banyak diantara kita juga yang berkelebihan air namun masih kita gunakan dengan semena mena. Kita hanya terfokus pada keperluan kita tanpa menyadari orang lain juga memerlukan hal tersebut.
ORANG YANG SELALU CUCI TANGAN
Dalam cerpen Orang yang Selalu Cuci Tangan karya
Seno Gumira Ajidarma ini sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia
sekarang ini. Cerpen ini, menceritakan kondisi realita politik Indonesia yang
sudah dapat dibilang hancur ini. Cerpen ini menceritakan tentang wakil rakyat
Indonesia yang sudah terlanjur memiliki kebiasan yang buruk. Karena terlalu terbiasanya mereka akan kebiasan
buruk tersebut, mereka tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana
yang salah. Kebiasaan buruk mereka yang diceritakan dalam cerpen ini adalah korupsi.
Dalam cerpen tersebut menceritakan tentang orang
yang mencuci tangan melebihi seringnya orang pada umumnya. Kalimat “cuci tangan”
sendiri adalah istilah yang sering dipergunakan untuk orang yang menghindar dari
tanggung jawab. Para menteri yang melakukan korupsi tentu saja merupakan orang
yang menghidar dari tanggung jawabnya.
“Wajah
yang selalu muncul di koran dan televisi, wajah yang selalu dijaganya agar
tampak selalu terhormat, amat sangat terhormat, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih
terhormat. Demi kehormatan wajah itulah ia selalu mencuci tangannya, karena dalam
pikirannya, tangan yang kotor akan mempengaruhi pandangan orang banyak terhadap
wajahnya.”.
Dalam penggalan cerpen di atas menceritakan tentang
sosok elit politik yang selalu muncul di media masa. Mereka akan selalu menjaga
nama baik mereka. Mereka tidak akan mau terlihat buruk di mata masyarakat.
“Ia sendiri
meragukan, manakah yang sebetulnya lebih baik, antara selalu mencuci tangan karena
merasa tangannya selalu kotor dibandingkan dengan selalu mencuci tangan karena tangannya
betul – betul kotor. Namun ia sungguh – sungguh ingin percaya, meskipun ia selalu
melihat tangannya betul – betul kotor, betapa tangannya itu sendiri sebetulnya bersih.”
Penggalan cerpen di atas menceritakan tentang sosok
wakil rakyat yang sudah terbiasa melakukan korupsi sehingga mereka tidak dapat lagi
membedakan mana yang benar dan mana salah.Sifat tamak mereka sudah membutakan mereka.Mereka
sudah tidak lagi peduli akan akibat yang ditimbulkan dari ketamakannya.
“Pada suatu
hari, ketika ia mencuci tangan di wastafel, air yang mengucur dari kran dalam pandangan
matanya agak kecoklat – coklatan…. Segeralah para tukang dipanggil untuk memeriksa,
apakah kiranya yang membuat air pencuci tangan yang seharusnya membuat tangan menjadi
bersih kini justru membuat tangan semakin kotor.”
Penggalan cerpen di atas mengungkapkan bahwa ketika
kesalahan mereka mulai terungkap, mereka dengan kokoh tidak mau mengakui kesalahannya.Bahkan
mereka balik menyalahkan pihak yang benar dan juga menganggap pihak yang
menyalahkan tersebut adalah pihak – pihak yang anti terhadap dia.
Kesimpulan cerpen ini adalah, sifat wakil rakyat
Indonesia sudah terbiasa melakukan korupsi sehingga mereka tidak dapat lagi membedakan
mana yang benar dan mana salah. Oleh karena itu, sebaiknya wakil rakyat
Indonesia harus tidak lagi melakukan korupsi.Korupsi secara langsung merugikan rakyat.
DAUN-DAUN
WARU DI SAMIRONO
Daun daun Waru di Samirono adalah suatu
cerpen yang ditulis oleh NH Dini. Cerpen ini berisi tentang seorang ibu yang
sudah kehilangan pekerjaan tetapnya dan pada akhirnya ia meninggal karena tidak
mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Cerpen
ini adalah cerpen yang menggambarkan tentang kemiskinan yang dilambangkan
oleh tokoh mbah Jum. Cerpen ini sangat relevan untuk Indonesia karena cerpen
ini secara tidak langsung mengkritik salah satu masalah terbesar yang ada di
Indonesia yaitu masalah kemiskinan.
Di
cerpen dikatakan bahwa ada saat di mana tokoh mbah jum telah merasakan hantaman
di kirinya. Dada kiri yang dimaksud adalah jantung dan yang ia lakukan
hanya mengerok lehernya. Hal ini menjelaskan bahwa banyak orang miskin di
Indonesia yang sakit tetapi tak ada biaya untuk mengobati penyakitnya, maka
mereka tidak dapat berobat.
Cerpen
ini juga menggambarkan nasib orang miskin di Indonesia yang tidak berubah.
Dilihat dari karakter Mbah jum yang dulu hanya dipanggil Lik Jum. Nasib orang
miskin di Indonesia akan sama setiap saat. Budaya kemiskinan di Indonesia tidak
dapat berubah. Dapat dilihat dari tingkat kemiskinan di Indonesia yang semakin meningkat.
Meningkat yang dimaksud adalah jumlah orang miskin selalu meningkat dari waktu
ke waktu.
Selain
tentang kemiskinan, cerpen ini juga mengangkat tema tentang kepedulian
masyarakat sekitar terhadap orang yang mendapatkan kesulitan. Kepedulian
masyarakat berbeda di berbagai tempat. Di daerah pedesaan, kepedulian
masyarakat masih tinggi. Di desa masih sering ada gotong royong, dan
solidaritas antar warga tinggi. Dapat dilihat dari cuplikan cerpen tersebut
dimana banyak orang yang menawarkan pertolongan kepada mbah Jum karena mereka
melihat tokoh mbah Jum yang sudah tua. Dapat disimpulkan desa karena cerpen ini
mengambil latar Yogyakarta dan banyak pengerajin tempe sederhana di daerah
tersebut.
Di
daerah perkotaan, tingkat kepedulian masyarakat cenderung rendah. Masyarakat di
daerah perkotaan sudah sering mengabaikan orang lain dan hanya terfokus kepada
dirinya sendiri. Mereka cenderung mengabaikan orang lain yang kesusahan dan
melakukan pekerjaan yang ia lakukan, karena ia merasa yang paling sibuk.
Ada
suatu reality show yang mencoba mengukur tingkat kepedulian masyarakat Jakarta
terhadap orang yang kesusahan. Mereka menyiapkan kamera tersembunyi dan ada
orang yang menyamar sebagai seorang nenek tua miskin yang menjual jamu. Di
tengah trotoar jalan, nenek tersebut pura pura jatuh. Sebagian besar orang hanya
melihat dan mengabaikannya. Sampai akhirnya datang seorang nenek tua yang
membantu nenek tua miskin yang terjatuh tersebut. Melalui
reality show diatas dapat kita lihat tingkat kepedulian masyarakat Indonesia di
perkotaan. Mereka hanya terfokus pada pekerjaan mereka tanpa memperhatikan
sekitar. Banyak orang muda yang lewat tetapi tak menolong, malahan nenek tua
yang menolong nenek tersebut.
Jadi
cerpen Daun Daun Waru di Samirono ini sangat relevan bagi Indonesia, karena
cerpen ini mengangkat salah satu masalah yang merupakan masalah penting di
Indonesia seperti kemiskinan. Cerpen ini juga mengangkat tema tentang tingkat
kepedulian masyarakat terhadap orang yang membutuhkan. Tingkat kepedulian
masyarakat desa relatif tinggi sedangkan masyarakat kota relatif rendah.
MENGGAMBAR
AYAH
“Menggambar
Ayah” merupakan sebuah cerpen yang ditulis oleh A.S. Laksana di dalam kumpulan
cerpennya yang berjudul “Bidadari yang
Mengembara” dan buku ini menjadi buku kumpulan cerpen terbaik versi majalah
Tempo. Cerpen ini menggambarkan seorang anak yang lahir akibat sifat dari
seorang ibu yang kurang bertanggung jawab. Anak tersebut lahir karena sang ibu melakukan hubungan seks dengan orang yang tidak diketahui di luar nikah dan tak
ada tanggung jawab dari sang ayah. Anak itu pun juga ingin digugurkan oleh sang
ibu. Sehingga sang ibu menjadi seorang “single parent” dan
tak mengingini anak tersebut.
Cerpen
ini sangatlah relevan bagi Indonesia, karena banyak kasus tentang seks bebas di
Indonesia ini. Banyak tempat tempat prostitusi yang dibuka, banyak juga klub
klub malam yang dibuka akan meningkatkan angka seks bebas di Indonesia
meningkat. Namun masalah ini bukanlah merupakan masalah serius lagi bagi
Indonesia. Sudah banyak usaha usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk
mengurangi angka seks bebas, seperti menutup tempat tempat prostitusi dan klub
malam. Namun juga masih ada juga orang orang yang tidak bertanggung jawab
dengan mendirikan tempat prostitusi tersembunyi, sehingga polisi tidak dapat
menutup tempat itu.
Selain
tentang seks bebas, cerpen ini juga mengangkat tema tentang hal aborsi yang
sering dilakukan. Aborsi adalah tindakan yang dilakukan untuk membunuh janin
yang ada di rahim karena sang ibu tidak mengingini anak tersebut. Hal biasa
yang dilakukan sang ibu adalah minum obat terlarang atau langsung ke dokter
aborsi. Aborsi sebenarnya ditentang oleh semua agama, karena aborsi merupakan
pembunuhan terhadap manusia dan tidak ada agama di dunia ini yang mengizinkan
pembunuhan dilakukan dengan alasan apapun.
Cerpen
ini juga menggambarkan tentang kurangnya perhatian orang tua kepada anaknya.
Sang ibu tidak memberikan perhatian kepada sang anak dan sang anak juga tidak
mempunyai figur seorang ayah. Dengan adanya faktor faktor ini, sang anak
mengalami sedikit gangguan mental, seperti menggambar ayahnya sebagai alat
vital (menggunakan alat vital karena sang ayah dianggap sosok yang penting) di
mana mana. Sang anak juga merindukan belaian kasih sayang seorang ibu.
Kesimpulannya
adalah cerpen ini sangat relevan bagi Indonesia karena cerpen ini mengangkat
tema dari masalah masalah yang pernah dan masih menjadi masalah di Indonesia
seperti maraknya prostitusi, aborsi, dan kurangnya perhatian dan kasih sayang dari
orang tua.
Sekian merupakan opini dari kami. Cerpen yang ditulis oleh penulis cerpen ini merupakan cerpen yang secara tidak langsung menyindir tentang negeri kita Indonesia tercinta ini. Mereka tidak bermaksud ingin menjelek jelekan Indonesia di muka umum. Mereka hanya menginginkan rakyat Indonesia sadar akan negaranya dan berkeinginan untuk mengubahnya sehingga Indonesia akan menjadi suatu negara yang hebat dan disegani oleh negara negara lain di dunia ini,
Sekian merupakan opini dari kami. Cerpen yang ditulis oleh penulis cerpen ini merupakan cerpen yang secara tidak langsung menyindir tentang negeri kita Indonesia tercinta ini. Mereka tidak bermaksud ingin menjelek jelekan Indonesia di muka umum. Mereka hanya menginginkan rakyat Indonesia sadar akan negaranya dan berkeinginan untuk mengubahnya sehingga Indonesia akan menjadi suatu negara yang hebat dan disegani oleh negara negara lain di dunia ini,
Nama Kelompok :
- Kineta Kumala 00000011777
- Reynald Agustius Livano 00000012323
Pembagian Tugas :
-Penganalisis Cerpen : - Robohnya Surau
Kami (Kim Min Kyung)
- Orang yang Selalu Cuci Tangan (Kineta
Kumala)
- Daun-daun Waru di Samirono (Reynald A
Livano)
- Menggambar Ayah (Reynald A Livano)
-Pembuat Blog : Reynald A Livano
-Editor
:
Kineta Kumala
-Pengirim email : Reynald A Livano
Jumlah Kata : 1579




No comments:
Post a Comment